Jangan Macam-Macam ama Nenek yang satu ini!

0
92
Meenakshi Raghavan

Namanya Meenakshi Raghavan, usia beliau 74 tahun. Kalau sepintas terlihat dalam kehidupan sehari-hari beliau ini gak jauh beda dari nenek2 lainnya, yang kalem, lemah lembut sayang cucu.

Tapi siapa sangka, wanita lanjut usia ini akan sangat berbeda dari perkiraan orang tatkala beliau memegang sebilah pedang.

Ia adalah seorang instruktur beladiri kalaripayattu(dibaca: kalarippayatt) profesional.

SEPUTAR KALARIPAYATTU

Kalaripayattu atau biasa disebut kalari merupakan martial-arts yang berfokus pada penggunaan senjata, seperti pedang, tongkat, maupun tombak.

Kalaripayat ini merupakan beladiri yang berasal dari daerah Kerala, India bagian Selatan (Malabar Utara).
Beladiri ini termasuk beladiri tertua di dunia.
Tulisan para pendeta Budha yang mengunjungi India Selatan berabad-abad yang lalu menunjukkan bahwa Kalarippayattu telah berkembang sebagai seni bela diri sejak awal abad ke-5 Masehi dan dibawa oleh para pendeta Budha dan wisatawan lainnya ke China dan negara-negara lainnya. Di sana, itu berkembang dan berubah sepanjang zaman menjadi apa yang sekarang kita kenal sebagai karate dan judo.

youtube-thumbnail

Diperkenalkan oleh ayahnya saat itu beliau masih berumur 6-7 tahunan, diajak untuk nonton ajang Kalari di daerah setempat.
Ayah beliau menganjurkan untuk mempelajari kalari, awalnya sebagai penunjang kelenturan dan ketahanan fisik, karena saat itu masih giat-giatnya dalam menari. Namun seiring berjalannya waktu, ternyata kalari mempunyai daya tarik tersendiri bagi beliau. Sepertinya telah jadi bakat yang tersalurkan, ayah beliau terus menganjurkan untuk tetap latihan kalari hingga di usia belia(yang biasanya pada berhenti, selain karena faktor umur, namun jg norma saat itu wanita dilarang mempelajari olahraga beladiri tersebut).

Puncaknya saat akhirnya beliau menikahi ‘guru‘ beladirinya sendiri yang juga sangat mensupport beliau dalam mengembangkan Kalari hingga saat ini.

“I was never the angry or aggressive kind, but I used to dance. On seeing me dance, the teacher said, ‘Teach her kalari also’”

begitu ia bercerita awal mula mulai mempelajari kalari.

“Around 10-12 years of age, I left dancing and only did kalaripayattu. I liked kalari more, so I continued doing it.”

Untuk menguasai Kalaripayattu, seseorang harus menguasai semua aspek seni dan olahraga.
Tujuan pertamanya adalah menyempurnakan seni bela diri dan kemampuan fisik, melalui pertarungan tak bersenjata atau ‘mey payattu‘ dan Verumkai, dan pertempuran bersenjata atau ‘Kolthari‘ dan ‘Ankathari,’ yang menggunakan jenis tongkat, batang, ‘lathis‘, dll dan senjata tajam lainnya seperti belati, pedang, tombak.
Kedua, Kalari memiliki sistem medis sendiri, mirip dengan Ayurveda, namun dengan spesialisasi tersendiri, terutama untuk kerusakan saraf dan tulang, dan juga mempertimbangkan ‘marmas‘, atau titik vital tubuh manusia. Beliau mengatakan

“Kalari juga mengandung pengaruh spiritual, budaya, dan lingkungan, yang tidak dapat diabaikan saat dalam diskusi kebudayaan Kerala.”

Di usia senja ini beliau tidak patah semangat dan masih tetap aktif latihan dan mengembangkan Kalari.


Beliau mempunyai 4 anak dan cucu, dan juga mengajar lebih dari 150 murid dan berharap akan semakin bertambah seiring waktu dan tetap akan turun temurun dan tak hilang dimakan jaman.

youtube-thumbnail

Source :

wikipedia
yourstory
thenewsminute
sportskeeda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here