Heboh Wabah Penyakit Difteri, Berikut Penjelasan Dokter Fransiska Sri Susanti

0
76
Dokter Fransiska Sri Susanti.

Kasus wabah difteri yang terjadi di penghujung tahun 2017 disebut sebagai kejadian luar biasa (KLB) di Indonesia.

Diberitakan sebelumnya, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Mohamad Subuh, menyebut difteri yang terjadi tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Salah satunya karena pengidap difteri tidak hanya terjadi pada anak-anak saja, tetapi juga orang dewasa.

Dengan catatan, korban difteri paling muda berumur 3,5 tahun dan usia paling tua 45 tahun.

Difteri bukanlah penyakit baru. Ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan telah mewabah di banyak negara. Penyakit ini juga disebut sebagai penyakit masa lalu sejak difteri diperkenalkan pada tahun 1920-an dan 1930-an.

Namun, penyakit masa lalu ini kembali pada 2017. Selain Indonesia, negara lain yang terserang wabah difteri pada tahun ini adalah Bangladesh dan Yaman. Untuk kedua negara itu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah mengirimkan antitoksin.

“Sangat mengejutkan bahwa pada 2017, ada anak-anak yangmeninggal karena penyakit kuno yang sebenarnya dapat dicegah dengan vaksin dan mudah ditangani,” ujar perwakilan WHO, Dr Nevio Zagaria dikutip dari NPR, Jumat (8/12/2017).

Seorang netizen atas nama dr. Fransiska Sri Susanti, Sp.A yang sehari-harinya beraktivitas di RS PMI Bogor, Jawa Barat, membagikan pengetahuan tentang penyakit difetri melalui akun Facebooknya.

Belakangan ini dengan beredarnya kabar KLB difteri di berbagai tempat di Indonesia yang disusul dengan dicanangkannya kegiatan ORI timbul kehebohan dan kebingungan di kalangan masyarakat terutama para orangtua. Berbagai pertanyaan yang timbul tersebut akan saya coba jawab secara singkat dalam tulisan ini.

DIFTERI: Adalah penyakit infeksi sangat menular yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium dyphteriae. Cara penularan: 
– lewat udara melalui percikan ludah atau dahak penderita
– Kontak langsung dengan penderita dan benda2 yang tercemar oleh bakteri difteri

Gejala muncul 2-5 hari setelah tertular berupa: 
– Demam
– Lesu
– nyeri tenggorokan, nyeri menelan, suara serak
– pembengkakan kelenjar getah bening leher
– terbentuk membran tebal abu2 menutupi tenggorokan dan tonsil (tonsil)
– Sulit bernapas, napas sesak karena saluran napas tertutup oleh bengkak dan membran
– Dapat mengenai mata, hidung, kulit.

Komplikasi:
– Kematian akibat sesak napas
– Toxin dari bakteri dapat meracuni otot jantung dan saraf sehingga terjadi radang otot jantung (miokarditis) dan neuritis (radang saraf) yang melemahkan otot jantung sehingga bisa terjadi kematian mendadak akibat gagal jantung

Diagnosis: 
– Usap tenggorok untuk pemeriksaan kultur (biakan) bakteri dan pemeriksaan mikroskop dengan pewarnaan khusus

Pengobatan dan penanganan:
– Pembuatan lubang melalui trachea (tenggorokan) untuk membuka jalan napas yang tertutup oleh pembengkakan dan membran
– Pemberian antibiotik penisilin prokain utk membunuh bakteri
– Pemberian serum anti difteri (ADS) untuk menetralkan toxin difteri
– Mengisolasi ketat penderita di ruang isolasi khusus di RS karena penularan yang sangat tinggi
– Memberi antibiotik profilaksis (pencegahan) untuk orang2 yang kontak dengan penderita
– Pelaporan kepada dinas kesehatan setempat

Pencegahan
– Imunisasi dasar dan ulangan:
– DPT (dalam bentuk kombo DPT-HiB-Hepatitis B) pada bayi usia 2,3,4 bulan, 18 bulan dan 5 tahun
– DT untuk anak usia 5-7 tahun. Bisa didapatkan melalui program BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah) di kelas 1 SD
– dT untuk anak usia > 7 tahun hingga dewasa. Bisa didapatkan melalui program BIAS di kelas 2 dan 5 SD. Dianjurkan memakai vaksin Tdap bila memang tersedia. 
– dT atau Tdap diulang setiap 10 tahun untuk remaja dan dewasa
Tujuan imunisasi adalah menimbulkan antibodi terhadap difteri sehingga bila tertular tidak menjadi sakit atau kalaupun sakit tidak terkena sakit berat/cacat/meninggal. Imunisasi akan efektif melindungi masyarakat bila >80% populasi diimunisasi, sehingga menimbulkan herd immunity (kekebalan kelompok) yang dapat melindungi individu2 yang tidak bisa diimunisasi karena usianya yang belum cukup atau yang mempunyai penyakit yang menghalangi pemberian imunisasi.

Penyakit DIFTERI

Kejadian Luar Biasa (KLB)

Penyakit ini sebetulnya sudah sempat lama tidak ada lagi karena keberhasilan program imunisasi tetapi mulai merebak kembali sejak tahun 2011 akibat mulai banyaknya orang yang tidak mau mengimunisasi anak2nya. Mengingat penyakit ini sangat menular dan sangat berbahaya maka ada 1 saja kasus yang muncul sudah bisa dianggap sebagai KLB. KLB ini dimulai di Jawa Timur tahun 2011 dan hingga kini tidak kunjung teratasi akibat penolak masyarakat terhadap imunisasi. Beberapa tahun berikutnya penyakit ini mulai merebak di propinsi2 lain. Tahun ini saja sudah ada 608 kasus di seluruh Indonesia dengan total kematian 32 orang. Dari sekian banyak penderita ternyata 66% tidak diimunisasi, 33% diimunisasi tapi tidak lengkap. Sisanya hanya 1% yang imunisasi lengkap

ORI (Outbreak Response Immunisation)

Menghadapi KLB ini maka pemerintah melakukan imunisasi serentak di wilayah2 yang terkena KLB, yang dinamakan ORI, diutamakan terlebih dahulu yang penderitanya paling banyak dan yang wilayahnya paling padat karena risiko penularan yang lebih tinggi. Dilakukan di propinsi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat yaitu di:
– Kota dan Kabupaten Tangerang
– Kota Tangerang Selatan
– Kota dan Kabupaten Serang
– Jakarta Utara 
– Jakarta Barat
– Purwakarta
– Karawang
– Kota dan Kabupaten Depok
– Kabupaten Bekasi

ORI ini ditujukan pada anak2 usia 1 – <19 tahun dengan jadwal 0, 1, 6 bulan, dimulai tanggal 11 Desember 2017. Kegiatan ini akan dilaksanakan di sekolah, posyandu, puskesmas, RS. Semua anak yang masuk kriteria wajib ikut tanpa memandang status imunisasi sebelumnya. Jadi walaupun anak2 anda sudah lengkap imunisasi tetap wajib mengikuti kegiatan ini. Bila anak anda kebetulan mempungai jadwal rutin imunisasi di periode ORI maka imunisasi rutinnya bisa dilebur ke dalam ORI. Bila jadwal rutinnya mepet dengan jadwal ORI maka dapat menunda imunisasi rutinnya lalu ikut ORI

Mudah-mudahan tulisan panjang ini bisa membantu teman-teman sekalian memahami difteri, KLB dan ORI.

Saat berita ini diunggah, sudah disukai 1,6 ribu netizen dan 8.407 kali dibagikan. (*)

sumber : medan.tribunnews.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here