Miris ! Petani Ini Pilih Akhiri Hidupnya, Gara-gara Harga Bawang Anjlok

0
114

DEMAK –¬†Suasana sedih kesedihan masih melingkupi rumah duka tempat tinggal almarhum Sarwono (34) di Desa Gempolsongo RT 3 RW 1, Mijen, Demak, Jawa Tengah, Senin (11/12/2017) siang.

Para pelayat masih berdatangan ke rumah ini menyampaikan belasungkawa.Sehari sebelumnya, jasad petani bawang merah itu ditemukan mengambang di sekitar Jembatan Sungai Bengkal yang berjarak sekitar 1 kilometer dari kampungnya.

Jenazah Sarwono kali pertama ditemukan seorang warga yang tengah memancing.Kontan penemuan itu membuat geger masyarakat Kecamatan Mijen.Warga kemudian melaporkannya ke kepolisian dan puskesmas setempat.

Korban diketahui bernama Sarwono (34) warga Desa Gempolsongo RT 3 RW 1 Mijen Demak Jawa Tengah. Saat pemeriksaan fisik oleh petugas medis, tak ditemukan tanda penganiayaan atau bekas kekerasan di tubuh almarhum.

Keluarga korban pun menolak proses autopsi.Tersiar kabar bahwa Sarwono mengakhiri hidupnya karena harga jual bawang yang rendah.Benarkah dugaan tersebut?

Umiyatun (25), istri korban, menuturkan beberapa hari terakhir sang suami memang sering mengeluhkan harga jual bawang.

“Akhir-akhir ini, bapaknya anak-anak sering mengeluh pusing. Dia mengaku sebal karena harga jual bawang merah yang anjlok,” ujar Umiyatun sambil menahan tangis kepada Tribunjateng.com.

“Pusing aku, sebal. Brambang rak ono ajine (tak ada harganya),” tutur Umi menirukan Sarwono.

Keluhan itu juga disampaikan Cak Win, panggilan akrab Sarwono, kepada saudara-saudaranya.

Umi menyatakan

sikap Cak Win pun berubah drastis setelah menyampaikan uneg-uneg tersebut.

Sang suami menjadi kurang ramah, tak seperti biasa yang selalu menyapa dan membalas sapaan orang lain.

Penilaian mengenai perubahan drastis sikap Cak Win itu juga disampaikan Sutami (70), ibu korban.

“Sarwono sikapnya menjadi lebih dingin. Dia selalu keluhkan harga jual bawang yang hanya Rp 4.000 per kilo,” papar Sutami.

Puncaknya pada Sabtu (9/12/2017) pukul 02.00 WIB, Cak Win dan Sutami pergi ke Pasar Welahan untuk menjual bawang.

Di pagi buta itu, Cak Win hanya berujar pada ibunya untuk mengiyakan jika ada penjual yang membeli bawang mereka dengan harga berapa pun.

“Piro-pirolah neg meh dituku angger wehno, Mak (berapa pun harga beli, berikan saja),” ujar Sarwono.

Sutami pun menuruti kemauan anak bungsunya itu.

Dia menjual 58 kg bawang merah berharga Rp 3.500 per kilogram, total Rp 203.000.

Padahal harga yang wajar berkisar Rp 15.000-Rp 20.000 setiap kilogram.

Sesampainya di rumah, Sarwono menggendong Bela, putri bungsu yang baru berusia 3,5 bulan.

Adapun Umiyatun mencuci pakaian.

Setelah Bela tertidur, Sarwono meninggalkan bayi itu di rumah.Tanpa pamit kepada siapa pun, pukul 05.00, dia pergi melalui pintu belakang.Karena tak kunjung kembali, akhirnya seluruh warga kampung mencari.

Pencarian dimulai pukul 11.00 di sawah, kuburan hingga seluruh pelosok.

Karena tak kunjung ditemukan, Umiyatun dibantu warga yang lain melapor ke Babinsa setempat.

Keesokan hari atau Minggu pagi, barulah kerabat mendapat kabar bahwa telah ditemukan sesosok mayat yang sesuai ciri-ciri korban.

(Tribunnews.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here